Menarik kembali garis panjang perjalanan kehidupan, bertemu dengan orang-orang asing yang kemudian berkenalan dan berteman dekat maupun hanya sekedarnya. Setiap orang ada waktunya dan setiap waktu ada orangnya begitulah kiranya kata-kata bijak yang kubaca di story seorang teman yang hanya sekedar teman. Seperti halnya ungkapan di zaman ini “ sangat relate ” menjadi kata yang kuucapkan hanya dalam hati dan pikiran. Tentang hal besar bagiku yang mungkin tidak begitu besar baginya, jatuh suka setelah sekian lama mati rasa, tetapi kurasa mati rasa terlalu berlebihan mungkin lebih kepada penuh keraguan dan ketakutan bahkan untuk memulainya. Terkadang suatu hal bagi seseorang mudah namun tidak mudah bagi orang lain. Dengan latar belakang aman yang ternyata palsu membuat beberapa orang sulit beradaptasi ataupun mencerna perilaku orang lain diluarnya. Bukan tidak mengerti hanya mungkin tidak tahu bagaimana cara menerimanya dan memberikan respon yang sepantasnya, mungkin terlihat sangat sepele ...
Suatu waktu Penulis pernah membaca kutipan nasihat dari Prof. Jawahir Thontowi yang menyatakan bahwa “dalam sebuah pengembaraan hidup, jangan pernah merasa diri kita spesial bagi orang lain yang kita hadapi, bisa jadi itu hanya ekspektasi semu yang akan menyerang hati. Kecewa pasti akan kita terima, namun ketika sudah terlanjur kecewa, maka mulailah perbaiki hatinya, jernihkan pikirannya, dan kurangi rasa spesialnya”. Tampaknya nasihat ini sangat relate dan selaras dengan petuah dari Sayyidina Ali bin Abi Thalib “Aku pernah merasakan semua kepahitan dalam hidup dan yang paling pahit adalah berharap kepada manusia”. Pada dasarnya manusia adalah mahluk sosial dan membutuhkan sosialisasi satu sama lain. Dalam berhubungan dengan orang lain kadang adakalanya diri kita merasa spesial atas perlakuan orang lain terhadap kita. Terdapat beberapa kemungkinan alasan terhadap perasaan meresa spesial tersebut, pertama bahwa orang lain tersebut memang memperlakukan kita secara spes...