Langsung ke konten utama

Postingan

KONTEMPLASI

Menarik kembali garis panjang perjalanan kehidupan, bertemu dengan orang-orang asing yang kemudian berkenalan dan berteman dekat maupun hanya sekedarnya. Setiap orang ada waktunya dan setiap waktu ada orangnya begitulah kiranya kata-kata bijak yang kubaca di story seorang teman yang hanya sekedar teman. Seperti halnya ungkapan di zaman ini “ sangat relate ” menjadi kata yang kuucapkan hanya dalam hati dan pikiran. Tentang hal besar bagiku yang mungkin tidak begitu besar baginya, jatuh suka setelah sekian lama mati rasa, tetapi kurasa mati rasa terlalu berlebihan mungkin lebih kepada penuh keraguan dan ketakutan bahkan untuk memulainya. Terkadang suatu hal bagi seseorang mudah namun tidak mudah bagi orang lain. Dengan latar belakang aman yang ternyata palsu membuat beberapa orang sulit beradaptasi ataupun mencerna perilaku orang lain diluarnya. Bukan tidak mengerti hanya mungkin tidak tahu bagaimana cara menerimanya dan memberikan respon yang sepantasnya, mungkin terlihat sangat sepele ...
Postingan terbaru

Ekpektasi Semu

Suatu waktu Penulis pernah membaca kutipan nasihat dari Prof. Jawahir Thontowi yang menyatakan bahwa “dalam sebuah pengembaraan hidup, jangan pernah merasa diri kita spesial bagi orang lain yang kita hadapi, bisa jadi itu hanya ekspektasi semu yang akan menyerang hati. Kecewa pasti akan kita terima, namun ketika sudah terlanjur kecewa, maka mulailah perbaiki hatinya, jernihkan pikirannya, dan kurangi rasa spesialnya”. Tampaknya nasihat ini sangat relate dan selaras dengan petuah dari Sayyidina Ali bin Abi Thalib “Aku pernah merasakan semua kepahitan dalam hidup dan yang paling pahit adalah berharap kepada manusia”.      Pada dasarnya manusia adalah mahluk sosial dan membutuhkan sosialisasi satu sama lain. Dalam berhubungan dengan orang lain kadang adakalanya diri kita merasa spesial atas perlakuan orang lain terhadap kita. Terdapat beberapa kemungkinan alasan terhadap perasaan meresa spesial tersebut, pertama bahwa orang lain tersebut memang memperlakukan kita secara spes...

Katanya Hidup Adalah Pilihan

     Bahwa sejatinya hidup adalah pilihan, setiap hari kita dihadapkan dengan berbagai pilihan baik hal-hal kecil sampai hal-hal besar. Saat sudah menentukan pilihan kadang dengan pertimbangan yang matang maupun secara keyakinan semata pasti akan ada alasan meskipun kadang alasan yang berbobot sampai alasan yang sepele. Namun ketika menjalankan pilihan kadang kita ragu dan mempertanyakan apakah benar pilihan yang telah dibuat tersebut, dan bahwa senyatanya tidak semua orang dilahirkan pandai memilih, tapi hidup menuntut untuk terus memilih.         Dalam buku "The Art of The Good Life, Filosofi Hidup Klasik Abad-21" yang ditulis oleh Rolf Dobelli, ia menyatakan bahwa ketidakfleksibelan juga diperlukan, mengapa demikian, ia menyatakan terdapat dua alasan:  pertama  terus menerus membuat keputusan baru akan melemahkan tekad kita.  Decision fatigue  adalah istilah untuk menyebut kelelahan mental akibat pengambilan keputusan. ...

Hal Itu Datang Lagi

  Aku percaya Ada beberapa hal yang memang bukan urusanku Dan aku tidak perlu tahu Demi meminimalisir ekpestasi semu atas merasa spesial bagi orang lain Yang jelas-jelas hal itu memang semu Ini terus berulang menjadi siklus Tapi aku selalu goyah terombang-ambing melewatinya  

Sendirian

 Aku tahu masalah akan selalu ada Tapi sering kali aku masih kualahan dibuatnya Hingga aku perlu   meluapkannya lewat air mata Sambil meratapi kesendirian, seolah tak satupun ada manusia yang peduli denganku Aku bangun dengan mata sembab Sering kali aku takut bangun, dan harus menghadapi hari-hari Berharap bisa tidur berhari-hari dan bangun jika sudah ada solusi Hey bodoh Mana mungkin solusi datang sendiri tanpa kau melakukan apapun?

Diri Sendiri

Aku ingin tenang, tapi pikiranku terus melayang-layang. Banyak orang yg mempertanyakan, tapi aku tak punya jawaban. seolah-olah hidup adalah balapan, bukan kah hidup adalah pilihan? Toxic sosial media, lingkungan yg sering menyalahkan, kurangnya dukungan. Kepalaku berisik, aku panik. Aku ambil jeda untuk rehat dan mencari suasana lain. Jawabannya adalah diri sendiri. Berusaha untuk tidak ikut kalut dengan standar orang lain.

Aku

Aku ya aku Aku ini sebenarnya siapa? Apa si yang aku mau? Jadi aku harus bagaimana? Aku belum memahami sepenuhnya tentangku Tapi kata orang, "yang paling mengerti tentang diri kamu ya kamu sendiri" Heh tapi kan banyak orang yang memberi wejangan tapi tidak melakukan Eits... Tapi aku sepakat, tentang "yang paling mengerti tentang diriku ya aku sendiri" Tapi kembali lagi pernyataanku bahwa "aku belum sepenuhnya memahami tentangku" Iya, aku sedang di masa "apa si yang aku mau?"