Langsung ke konten utama

Ekpektasi Semu

Suatu waktu Penulis pernah membaca kutipan nasihat dari Prof. Jawahir Thontowi yang menyatakan bahwa “dalam sebuah pengembaraan hidup, jangan pernah merasa diri kita spesial bagi orang lain yang kita hadapi, bisa jadi itu hanya ekspektasi semu yang akan menyerang hati. Kecewa pasti akan kita terima, namun ketika sudah terlanjur kecewa, maka mulailah perbaiki hatinya, jernihkan pikirannya, dan kurangi rasa spesialnya”. Tampaknya nasihat ini sangat relate dan selaras dengan petuah dari Sayyidina Ali bin Abi Thalib “Aku pernah merasakan semua kepahitan dalam hidup dan yang paling pahit adalah berharap kepada manusia”.

    Pada dasarnya manusia adalah mahluk sosial dan membutuhkan sosialisasi satu sama lain. Dalam berhubungan dengan orang lain kadang adakalanya diri kita merasa spesial atas perlakuan orang lain terhadap kita. Terdapat beberapa kemungkinan alasan terhadap perasaan meresa spesial tersebut, pertama bahwa orang lain tersebut memang memperlakukan kita secara spesial dengan maksud tertentu. Kedua bisa jadi memang pada dasarnya sifat dari orang lain tersebut baik, care dan easy going kitalah yang kepedean merasa diperlakukan spesial. Ketika kemungkinan yang pertama memang benar tentunya perasaan kita akan senang mengetahuinya, namun ketika pada kenyataannya kemungkinan kedualah yang benar maka perasaan kita hanyalah merasa diperlakukan spesial hanyalah ekspektasi semu yang berujung pada rasa kecewa dan kepahitanlah yang akan kita dapat.

    Bahwa sejatinya ekpektasi yang semu seringkali membuat kita lupa pada realita kehidupan bahwa manusia adakalanya sebagai sumber kebahagiaan tapi juga tidak lupa seringkali juga sebagai sumber kekecewaan. Karena manusia itu kompleks dan dinamis, terkadang apa yang tampak dari luar permukaan tidak seperti apa adanya, dan tampaknya penulis sendiri walaupun sudah tau bahwa seringkali sumber kekecewaan lebih mendominasi tetapi masih sering ngeyel, yang pada akhirnya kekecewaan yang didapatkan. Wallahualam.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sekian

Teruntuk yang pernah datang Aku tau kamu tak berniat, tapi aku yang terlalu berharap, terima kasih sudah pernah datang, maaf jika merepotkan. Sekian.

Drama Korea

     Sejujurnya aku salut ama mereka yang nonton drama korea alias dakor yang durasinya berkali-kali lipat lebih lama dibanding film pada umumnya, apalagi setiap akhir episodenya bikin penasaran buat nonton episode berikutnya dan mereka tetap bisa fokus ngerjain tugas, maupun ngelakuin kegiatan lain yang jadi kewajibannya. Dulu aku pernah nonton drakor kalo enga salah “Hospital Ship” dan saat nonton habis satu episode pengen nonton episode selanjutnya karena bikin penasaran, dan begitu seterusnya sampai episode terakhir, jatuhnya malah ambisius buat nyelesain semua episodenya secepatnya, karena bikin penasaran juga selalu kepikiran. Jadi pikiranku saat itu selesein drakornya dulu baru ngerjain yang lain.      Tapi aku jadi berfikir, kay aknya kalo begini terus merugikanku, aku jadi nunda ngerjain tugas yang seharusnya aku duluin dan hal-hal lain yang lebih penting. Kemudian aku memutuskan buat engga nonton drakor lagi. Saat temen nonton drakor aku berusaha ...

KONTEMPLASI

Menarik kembali garis panjang perjalanan kehidupan, bertemu dengan orang-orang asing yang kemudian berkenalan dan berteman dekat maupun hanya sekedarnya. Setiap orang ada waktunya dan setiap waktu ada orangnya begitulah kiranya kata-kata bijak yang kubaca di story seorang teman yang hanya sekedar teman. Seperti halnya ungkapan di zaman ini “ sangat relate ” menjadi kata yang kuucapkan hanya dalam hati dan pikiran. Tentang hal besar bagiku yang mungkin tidak begitu besar baginya, jatuh suka setelah sekian lama mati rasa, tetapi kurasa mati rasa terlalu berlebihan mungkin lebih kepada penuh keraguan dan ketakutan bahkan untuk memulainya. Terkadang suatu hal bagi seseorang mudah namun tidak mudah bagi orang lain. Dengan latar belakang aman yang ternyata palsu membuat beberapa orang sulit beradaptasi ataupun mencerna perilaku orang lain diluarnya. Bukan tidak mengerti hanya mungkin tidak tahu bagaimana cara menerimanya dan memberikan respon yang sepantasnya, mungkin terlihat sangat sepele ...