Langsung ke konten utama

Dengan Berorganisas Masalah Bertambah

Saya pernah membaca status teman saya di whats app yang dia screenshot dari snapgram sosok yang cukup familiar di Universitas Islam Indonesia yaitu Ibramhim Malik, pencetus salah satu komutias belajar bahasa di Universitas Islam Indonesia dan sekarang mendapat beasiswa kuliah di Australia. Di snapgram itu terdapat pertanyaan dari salah satu followersnya “apa motivasi terbaik, untuk tetap konsisten dalam menekuni sebuah bidang?” kemudian Ibhim menjawab “hidup itu ada dua pilihan, menjadi penikmat sejarah atau bagian dari sejarah”. Untuk menjadi bagian dari sejarah banyak hal yang bisa kita lakuakan. Termasuk menurut pendapat saya adalah dengan berorganisasi, masa-masa menjadi mahasiswa adalah dimana kita benar-benar harus mengenal diri kita dengan segala kakurangan dan kelebihannya. Di mana passion kita, dimana kita akan mengisi waktu-waktu selain kuliah, dan berkelut dengan tugas. Perlahan-lahan saya mulai memahami diri saya sendiri, bahwasannya saya suka berorganisasi, ceileh...
            Bagi saya organisasi cukup penting, dengan berorganisasi kita akan mendapatkan teman baru, pengalaman baru, pengetahuan baru, dan tentunya masalah yang baru. Hidup itu pilihan, jika kita tak memilih keluar dari zona nyaman, maka masalah kita pun mungkin juga tidak bertambah, namun, justru dengan masalah yang muncul, dan harus kita pecahkan , itulah yang namanya pengalaan dan pengetahuan baru. Dengan adanya masalah maka kita juga bisa memahami seperti apa sebenarnya diri kita dalam menghadapi masalah itu, harus bagaimana mencari jalan keluarnya, apa yang harus aku dilakukan, harus meminta bantuan siapa, atau aku bisa selesaikan sendiri.
            Bagaimanapun hidup perlu adanya masalah, dari masalah kita akan lebih merasakan bagaimana rumitnya hidup, dan bagaimana indahnya hidup jika masalah kita berhasil kita selesaikan. Dengan keluar dari zona nyaman maka kiata akan tahu lebih banyak dari mereka yang tetap stand by di titik nyaman. Terkadang masalah juga mengajarkan kita tentang arti kepedulian terhadap orang yang masalahnya lebih rumit dari kita, kerjasama dalam menghadapi masalah kelompok sehingga lebih eratnya ikatan batin, pembelajaran bahwa hidup itu tak praktis, dan mengingatkan bahwa kita masih punya Tuhan yang maha memberi jalan keluar. 
           


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sekian

Teruntuk yang pernah datang Aku tau kamu tak berniat, tapi aku yang terlalu berharap, terima kasih sudah pernah datang, maaf jika merepotkan. Sekian.

Drama Korea

     Sejujurnya aku salut ama mereka yang nonton drama korea alias dakor yang durasinya berkali-kali lipat lebih lama dibanding film pada umumnya, apalagi setiap akhir episodenya bikin penasaran buat nonton episode berikutnya dan mereka tetap bisa fokus ngerjain tugas, maupun ngelakuin kegiatan lain yang jadi kewajibannya. Dulu aku pernah nonton drakor kalo enga salah “Hospital Ship” dan saat nonton habis satu episode pengen nonton episode selanjutnya karena bikin penasaran, dan begitu seterusnya sampai episode terakhir, jatuhnya malah ambisius buat nyelesain semua episodenya secepatnya, karena bikin penasaran juga selalu kepikiran. Jadi pikiranku saat itu selesein drakornya dulu baru ngerjain yang lain.      Tapi aku jadi berfikir, kay aknya kalo begini terus merugikanku, aku jadi nunda ngerjain tugas yang seharusnya aku duluin dan hal-hal lain yang lebih penting. Kemudian aku memutuskan buat engga nonton drakor lagi. Saat temen nonton drakor aku berusaha ...

KONTEMPLASI

Menarik kembali garis panjang perjalanan kehidupan, bertemu dengan orang-orang asing yang kemudian berkenalan dan berteman dekat maupun hanya sekedarnya. Setiap orang ada waktunya dan setiap waktu ada orangnya begitulah kiranya kata-kata bijak yang kubaca di story seorang teman yang hanya sekedar teman. Seperti halnya ungkapan di zaman ini “ sangat relate ” menjadi kata yang kuucapkan hanya dalam hati dan pikiran. Tentang hal besar bagiku yang mungkin tidak begitu besar baginya, jatuh suka setelah sekian lama mati rasa, tetapi kurasa mati rasa terlalu berlebihan mungkin lebih kepada penuh keraguan dan ketakutan bahkan untuk memulainya. Terkadang suatu hal bagi seseorang mudah namun tidak mudah bagi orang lain. Dengan latar belakang aman yang ternyata palsu membuat beberapa orang sulit beradaptasi ataupun mencerna perilaku orang lain diluarnya. Bukan tidak mengerti hanya mungkin tidak tahu bagaimana cara menerimanya dan memberikan respon yang sepantasnya, mungkin terlihat sangat sepele ...